Categories
Micro Story

Sebanyak Tetesan Rintik Hujan, Tak Terhitung

Pagi itu pukul tujuh di hari minggu tahun 2020, Tuhan mengirimkan rahmatnya berupa tetes-tetes air dari langit. Rintiknya perlahan-lahan terus menetes hingga deras. Suaranya yang riuh disertai guntur yang gemuruh membawaku yang sedang terduduk di serambi rumah dengan ditemani secangkir teh hangat akhirnya melamun, meresap jauh ke dalam sukma. Namun, tiba-tiba riuh gemuruh itu dibuyarkan oleh getar ponsel yang kemudian layarnya benderang, kulihat ada namamu disana.

Segera aku sambut ponsel itu dari meja kayu di sebelahku yang sedari tadi hanya diam mematung menaham panasnya gelas teh. Kubuka kunci layar ponsel dan yang kulihat adalah rantaian pesan darimu, begitu banyaknya laksana kue lapis. Iya, bertumpuk-tumpuk.

Aku pun membacanya satu demi satu, kata demi kata. Tidak terasa, riang perasaan saat membacanya mengakibatkan sebuah senyuman terlukis di bibirku.

Bagaimana tidak riang gembira. Kata-katamu yang amat manis mampu menghilangkan segala kepahitan. Aku takut jika sampai lautan tahu kata-katamu itu, mungkin laut tidak sudi lagi menerima garam dan akan menjadi manis karenanya.

Sebenarnya aku gembira bukan cuma semata-mata karena kata-katamu. Melihat pesanmu saja merupakan hal yang sangat aku syukuri. Walau hanya segaris tawa atau sebuah ikon emoji, bagiku layaknya miliaran bintang menghiasi ruang jiwa. Bukan aku berlebihan, hal itu menandakan bahwa dirimu masih hidup, masih ada diantara ruang dan waktu yang sama denganku.

Mungkin dirimu tidak mengetahuinya atau bahkan mungkin tidak memahaminya. Aku di sini menunggu pesanmu dengan rasa cemas tetapi diselimuti hangatnya harapan. Segala kemungkinan berkecamuk di alam pikiran

Namun, kecemasan itu mampu kukalahkan dengan keyakinan yang sudah tumbuh besar lalu mengakar kuat mencengkram setiap sudut jiwa. Yang mana walaupun ia tumbang akan menyisakan akar didalamnya yang masih mencengkram kuat dan siap untuk tumbuh kembali.

Dengan senyum yang masih setia di bibirku. Perlahan jemariku mulai menari-nari di atas kibor virtual pada layar ponsel. Bunyi ketukan di setiap hurufnya bagaikan irama musik yang menghipnotisnya untuk semakin bersemangat menari, bergerak kesana kemari merangkai kata-kata.

Setelah kubaca ulang, dengan yakin aku kirim suatu hasil karya tarian sang jemari kepadamu. Melepasnya menembus ruang dan waktu, mempercayakan gelombang radio membawanya secepat cahaya. Melintasi batas kemampuan manusia. Lalu kemudian kembali melanjutkan siklus menunggu.

Siklus menunggu yang kujalani dengan memandang hujan sembari menikmati suaranya. Membuat anganku terbang melayang, menjaga setiap pesanku menuju langit agar tak dicuri malaikat yang mungkin akan cemburu apabila membacanya.

Hujan kali ini terasa sangat membahagiakan. Ia bukan datang untuk melembabkan luka lama untuk membusuk. Namun, ia datang untuk menumbuhkan benih harapan. Ia membawa dirimu kepadaku untuk memulai kisah perjalanan yang baru.

Aku percaya, bahwa ketika hujan adalah waktu yang baik untuk berdo’a. Oleh karenanya, pintaku pada Tuhan agar kita tak pernah berakhir hingga takdir berkata cukup. Selalu akan banyak bahagianya, hari demi hari, tahun demi tahun, dan seterusnya selalu banyak bahagianya.

Sebanyak tetesan rintik hujan, tak terhitung.

***

Sekian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!