Categories
Micro Story

Kabut Pukul Tiga Pagi

Suara deburan air sungai yang menghantam bebatuan memecah keheningan kala pagi masih buta. Di saat kebanyakan manusia masih setia memenuhi panggilan dewa-dewi mimpi. Sedangkan aku, aku sudah bersiap untuk lari mengejar sesuatu yang tidak ada ujungnya, yang tidak ada garis akhirnya. Ya, apalagi kalau bukan mengejar dunia!

Dengan gerak terburu-buru aku mengabil selembar roti dari atas meja makan. Kubalurkan selai rasa anggur kesukaanku kemudaian melipatnya menjadi dua lapis. Kusumpalkan roti itu ke dalam mulut sembari memakai kaus kaki warna putihku dengan bordiran pola warna hitam pada pinggirannya.

Sedikit berlari kubuka pintu lalu menguncinya kembali dari luar. Kuambil sepatu dari rak nomor tiga. Karena di rak nomor satu dan dua sudah terisi berbagai macam perkakas untuk membetulkan sepeda. Sepeda yang kugunakan sehari-hari untuk berpacu mengejar takdir memburu nasib baik.

Kukencangkan ikatan sepatuku dan segera kuambil sepedaku yang kuikat pada pohon apel tua di samping rumah. Kupacu sepedaku dengan kencang menuju stasiun kereta, karena pukul 5 tepat aku harus sudah di atas peron. Berdiri menunggu kereta yang akan datang 5 menit setelahnya.

Setibanya aku di stasiun, langit mulai membiru, cakrawala mulai menguning, kabut mulai mengawan, matahari mulai mengintip. Kulihat arlojiku telah menunjukkan pukul 5 tepat. Segera aku berlari menuju peron. Suara rel yang beradu samar-samar kudengar, tanda kereta itu sudah dekat.

Benar saja, tepat 5 menit setelahnya, kereta itu pun tiba. Para pengejar dunia mulai berdiri memadati. Mendekati batas kuning pada bibir peron. Begitu kereta berhenti dan membuka pintu, kita semua bergagas merangsek masuk dan berdesak-desakkan.

Terlihat kacau, tapi memang itulah kenyataan yang terjadi. Tak bisa dielakkan, tak terhindarkan. Persaingan para manusia sudah dimulai sejak dari sini, dari awal perjalanan.

Sesaat setelah memasuki gerbong, mataku bekerja layaknya mata elang yang sedang memburu tikus. Bedanya, aku memburu kursi yang tak bertuan. Karena berdiri selama 2 jam itu merupakan awal yang buruk untuk menghadapi kejamnya dunia. Bagaimana tidak buruk, aku saja tadi sudah cukup lelah mengayuh sepeda dan ini masih harus berdiri selama 2 jam. Oh tidak, aku tidak mau!

Ya, itu bukan salah ketik, waktu dari jarak yang harus aku tempuh itu benar-benar 2 jam perjalanan.

Egois? Betul! Tapi aku tak peduli. Aku yakin mereka juga demikian. Manusia selalu mementingkan dirinya masing-masing. Sifat dasar manusia sebagai spesies pun keluar. Mementingkan dirinya sendiri untuk kelangsungan genetiknya, kelangsungan hidupnya.

Akhirnya, setelah berdesak-desakan aku berhasil menemukan kursi kosong didekat pintu keluar di sebelah kiri. Bergegas aku kesana lalu duduk disamping seorang pria berbadan agak besar dengan setelan rapi ala pekerja kantoran. Tak lama kemudian pintu kereta tertutup lalu kembali berpacu diatas rel.

Agak sesak kurasakan duduk di sebelah pria ini, badannya yang besar membuatku sedikit terhimpit. Lalu kulihat ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah ransum, makanan bekal yang ia bawa dari rumahnya mungkin.

Waktu ia membuka bekal itu, aromanya dengan sadis menusuk saraf hidungku. Membuat lambungku yang dijejalkan selembar roti selai anggur menjadi cemburu.

Aku hapal betul aromanya. Itu makanan kesukaanku, dahulu sering dibuatkan ibuku, itu ayam semur. Walau hanya hidung yang mendapat jatah dan lidah hanya diselimuti liur, aku sudah bisa melukiskan rasanya dalam imaji.

Ah kejam! Masih pagi sudah dibuat ingat dengan kenangan masa kecil.

Untuk menahan rasa cemburu lambungku, aku mencoba memejamkan mata dan merenung. Kupikir-pikir dunia ini ada-ada saja. Untuk menggapainya bisa semudah itu dan juga bisa sesulit itu. Tergantung bagaimana takdir yang tertulis.

Tetapi demi bertahan hidup, walau harus mengejar dunia yang tak berujung, tak memiliki garis akhir, aku harus berjuang, aku harus kuat, aku harus hebat!

Berjuang merubah keadaan hidup, mencoba menuliskan takdir baru, memburu nasib baik. Namun, tak ada jaminan semua akan berakhir manis, tak ada kepastian selama itu masih tentang mengejar dunia.

Semuanya itu samar, seperti kabut pukul tiga pagi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!